Aku penyuka brondong,
Hanya brondong yang berasa manis,
Tiap kali ku membawanya,
Membuat orang memandang sinis.
Brondongku memang manis,
Orang lain tak boleh mencicipi,
Apalagi secara gratis,
Karna tinggal ini brondong ditangan ini
Brondongku bukan murahan,
Tidak dijual seharga seribuan,
Apalagi di pinggir jalan,
Yang penuh debu dan kotoran.
Pertama kali ku menyentuhnya,
Ada getar yang terasa,
Tak sabar ku tuk melumatnya,
Hingga sedikitpun tak ada sisa.
Begitu renyah,
Mebuatku smakin bergairah,
Kembali ku ingin menikmatinya,
Hingga tak sadar semalam habis berapa.
Jogja,ditemani brondong manis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar